Kerak telor adalah makanan asli daerah Jakarta (Betawi), dengan bahan-bahan beras ketan putih, telurayam, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang merah goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir.
Gonggong atau siput laut merupakan makanan laut khas Batam, Kepulauan Riau. Gonggong ini dimasak dengan cara dikukus dengan bumbu minimalis. Cara memakannya pun cukup unik, yaitu menggunakan tusuk gigi kemudian memasukkannya kedalam cangkang, dicungkil-cungkil sampai daging Gonggong keluar. Biasa disajikan dengan sambal & saus.
Ini dia masakan khas dari Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kata Kaledo berasal dari dua kata yang memiliki arti Ka dan Ledo (bahasa penduduk asli kota Palu yaitu bahasa Kaili) yang artinya : Ka adalah Keras dan Ledo artinya Tidak (Tidak Keras). Konon juga, kata Kaledo adalah singkatan dari KAki LEmbu DOnggala. Bahan utama yang digunakan untuk membuat kaledo adalah tulang kaki sapi serta iga yang masih memiliki daging. Meskipun tulang dan iga keras, namun daging yang menempel sangat empuk. Untuk bisa menikmati sumsum yang ada di tulang sapi, biasanya disediakan sedotan plastik. Warna kuah kaledo adalah cokelat bening, bumbu yang dipakai cukup sederhana, yaitu Cabai rawit, garam, jeruk nipis, juga buah asam mentah. Disajikan dengan nasi atau ubi kayu/singkong muda yang direbus.
Limun merupakan salah satu minuman tempo dulu yang cukup populer dengan kandungan soda yang medium di era tahun 1960-an seperti halnya soft drink yang banyak kita jumpai di toko dan modern market saat ini.
Namun seiring perkembangan zaman, minuman lokal Indonesia ini mulai ditinggalkan dan sulit dijumpai lagi.
Di Kota Rembang ada yang namanya Limun Kawis. Limun yang terbuat dari buah kawista. Rasanya mirip dengan minuman bersoda rasa cola. Meski agak sulit dijumpai, tapi masih eksis hingga kini.
Heran juga kenapa dikasih nama jadah tempe. Padahal menunya pake tahu segala. Mungkin lebih tepatnya jadah bacem kali ye... hihihi oia... ini makanan khas di Djogja, tepatnya di daerah Kaliurang-Sleman.
Jadah ini makanan kesukaan saya. Tapi jadahnya doang. Rasanya gurih banget. Cuma sayang gedenya cuma se-upil gajah. Ga mantab!! Kalo bacemnya saya ga doyan. Soalnya rasanya manis banget, ga nikmat. Maklum deh, lidah pesisir ga doyan ama manis... Hehehe...
Waa... ini dia makanan murmer yang banyak betebaran di Djogja.
Dijual di gerobak angkringan dengan penerangan lakadarnya pake lampu teplok. Jadi gelap-gelap gitu deh.... hehehe..
Buka mulai jam 5 sore.
Harga nasinya mulai dari 500-1.000 perak. Biasanya ada banyak pilihan. Ada nasi+kering tempe, nasi+oseng tempe, nasi+sambal & ikan pindang, nasi goreng, dll.
Porsinya emang cuma sebanyak porsi makanan kucing. Makanya disebut nasi kucing.
Trus asesorisnya ada sate usus, sate telor puyuh, sate bekicot, ayam goreng, tempe goreng, mendoan, dll. Ukurannya juga mini. Harganya mulai dari 250-2000 perak. Biasanya banyak yang minta asesorisnya dibakar dulu, jadi ada rasa-rasa sedap dari bakaran arang gitu....
Kalo minumnya, seperti biasa... ada teh, jeruk, jahe, kopi, susu, susu+jahe, kopi joss, dll. Harganya mulai dari 500-2000 perak.